Menabur Rahmah, Merajut Harmoni: Ikhtiar Yapis Manokwari Mencetak Da’i Muda di Jantung Papua

Manokwari (24/1) – Di bawah langit Manokwari yang cerah, deru aktivitas di SMP Yapis Manokwari terasa berbeda dari biasanya. Di salah satu sudut ruang kelas yang sejuk, nampak belasan remaja tengah khusyuk mengolah vokal dan menyusun diksi. Bukan untuk pentas seni biasa, melainkan untuk memikul amanah besar sebagai penyampai risalah kebaikan pada bulan suci Ramadan 1447 H mendatang.
Sebanyak 17 murid pilihan dari Yayasan Pendidikan Islam (Yapis) Cabang Manokwari kini tengah ditempa. Mereka adalah representasi dari visi besar Yapis: mencetak generasi yang tidak hanya mahir menavigasi teknologi dan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga kokoh secara spiritual dan memiliki kedalaman karakter.
Suara dari Mimbar Muda
Para calon da’i tersebut, dengan sorot mata penuh semangat meski tak urung menampakan kegugupan atas tugas yang dibebankan. Namun ajaran dan pesan dari sang guru, “berlombaba-lomba dalam Kebaikan (Fastabiqul Khairat)” memantak semangat dan mengalahkan kegugupan tersebut. Satu semangat mereka: ingin menunjukkan bahwa generasi muda Papua, bisa menjadi pembawa pesan damai.
“Menjadi da’i bukan soal merasa paling tahu agama, tapi soal bagaimana ilmu yang saya dapat di kelas bisa bermanfaat nyata bagi masyarakat,” ajaran sang guru yang membekas di benak mereka.
Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah
Bagi Yapis, pendidikan bukan sekadar transfer informasi dari buku ke kepala. Sejalan dengan khittah perjuangannya, Yapis memegang teguh prinsip Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah. Artinya, setiap ilmu yang didapat haruslah bermuara pada pengabdian, dan setiap tindakan harus dilandasi oleh dasar keilmuan yang kuat.
Upaya menyiapkan 17 kader da’i ini adalah bukti nyata bahwa Yapis tetap fokus pada pembentukan karakter Islami yang siap membimbing umat. Nantinya, para pendekar muda ini akan terjun langsung mengisi kultum (kuliah tujuh menit) di masjid-masjid di dalam kota Manokwari dan sekitarnya selama bulan suci.
Program serupa juga dilaksanakan di berbagai cabang lainnya. Salah satunya adalah YAPIS di Tanah Papua Cabang Agats (Asmat). Di Kota Papan tersebut, program dai cilik dilaksanakan pada 2024. Kala, siswa SMP YAPIS Agats yang didaulat menjadi pendakwah pada mimbar Ramadhan.
Wajah Rahmatan Lil Alamin di Tanah Papua
Meski menyandang identitas Islam, Yapis di Tanah Papua telah lama bertransformasi menjadi rumah besar bagi keberagaman. Di sekolah-sekolah Yapis, warna kulit, latar belakang suku, hingga keyakinan bukanlah sekat. Inklusivitas adalah napas perjuangan mereka.
Yapis konsisten menghadirkan pendidikan bagi semua golongan – tanpa membeda-bedakan. Inilah implementasi nyata dari konsep Rahmatan Lil Alamin, menjadi rahmat bagi semesta alam. Di Tanah Papua yang kaya akan perbedaan, Yapis memosisikan diri sebagai garda terdepan dalam menjaga keharmonisan dan memperkuat toleransi antarumat beragama.
Benteng Karakter di Era Digital
Eksistensi Yapis selama puluhan tahun di Tanah Papua menjadi benteng yang menjaga anak-anak bangsa dari degradasi moral. Dengan kurikulum yang menyeimbangkan kecerdasan otak dan kelembutan hati, Yapis terus berupaya mencetak generasi yang cerdas, terampil, namun tetap memiliki Akhlakul Karimah (akhlak yang mulia).
Ke-17 calon da’i muda ini adalah simbol harapan. Mereka adalah bukti bahwa di tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi, nilai-nilai agama tetap menjadi kompas utama. Melalui lisan mereka di bulan Ramadan nanti, Yapis ingin mengirimkan pesan kuat: bahwa dari rahim pendidikan Islam di Papua, lahir generasi-generasi pembawa damai yang cinta pada tanah airnya dan taat pada Tuhannya.
Dengan langkah tegap dan persiapan matang, para santri sekolah umum ini siap melangkah ke mimbar, membawa cahaya ilmu dan amal, demi Papua yang lebih harmonis dan bermartabat. *
(TAM/WAG Yapis Pusat, Cabang & PT)

