ARTIKELBERITA

Menuai Karya, Menabur Harapan

Seperti
apa Bapak memandang Yapis hingga saat ini?

Yapis ini
bukan saya sebuah Lembaga yang menaungi institusi pendidikan. Tapi lebih dari
itu sebenarnya telah menggoreskan sejarah besar di tanah Papua, baik di pesisir
pantai maupun di gunung. Artinya Yapis telah menjadi Lembaga yang melakukan
perubahan-perubahan melalui pendidikan. Jadi kita makin sadar betapa pentingnya
Lembaga ini.

Sejauh
mana Yapis telah mejalankan perannya?

Mencapai
suatu khittah perjuangan, itu adalah proses yang Panjang. Yang terpenting
adalah, proses itu harus terus berjalan. Saya melihat sejauh ini, Yapis ada
lompatan-lompatan dari sisi penataan pendidikan di tingkat dasar hingga
perguruan tinggi. Nah, kontribusi seperti inilah yang bisa melahirkan
perubahan. Semua pihak menyadari bahwa, yang bisa merubah suatu kaum, suatu
Bangsa adalah lewat pendidikan. Yapis telah memilih angle yang tepat,
yaitu membuat perubahan, membangun peradaban melalui entry point pendidikan.
Saya piker kedepan, tinggal kita memperkaya dengan karya-karya kemanusian
dibidang yang lain tapi pendidikan menjadi platform dan identitas dari Yapis.

Berdasarkan kondisi saat ini, kira-kira apa tantangan yang akan dihadapi ke
depan?

Yang pertama, tantang yang paling dekat ini, de fakto, Papua sudah menjadi
empat atau lima provinsi. Otomatis, Yapis sebagai entitas yang menyelenggarakan
pengabdian di bidang pendidikan, harus menyesuaikan dengan perubahan ini. Nah
itu satu.

Kemudian, penguatan-penguatan di daerah. Cabang-cabang itu perlu di perkuat
karena bagaimanapun, sekarang ini, contohnya Cabang Merauke. Sekarang ini
Cabang Merauke tiba-tiba menjadi pusat pemerintahan, Provinsi Papua Selatan.
Karena itu harus kita upgrade, perlu kita kasih penguatan-penguatan sehingga
dapat menyesuaikan dengan perubahan kondisi lingkungan, sosial politik dan
kemasyarakat. Demikian juga daerah lain seperti Nabire dan Jayawijaya.

Kemudian yang ketiga, tantangan yang dekat ini, kekhawatiran. Jujur saya
khawatir UPT-UPT kita semisal perguruan tinggi yang sudah bagus, sudah maju,
ini bisa diklaim, diambil alih, di-kooptasi. Karena itu harus kita protect.
Oleh karena itu, penguatan identitas Yapis menjadi sangat penting di
daerah-daerah.Kita harus menata identitas di berbagai daerah. Ini penting.
Terkait penguatan proses belajar mengajar, saya kira Yapis sudah memiliki nama
besar.

Contoh, saya mendengar di Manokwari bahwa SMP terbaik di Manokwari, Papua
Barat itu Yapis. Demikian juga di Merauke, menjadi SD terbaik. Jadi sebenarnya
kita sudah memiliki UPT-UPT unggulan. Nah sekarang bagaimana kita menarik,
mengangkat yang masih lemah.

Dalam kontek
ke-Indonesian, ke-Umatan bagaiman bapak melihat peran yang dimainkan Yapis?

Dua point itu menjadi dasar utama pergerakan Yapis di tanah Papua. Betatapun
harus kita bahwa Yapis sebagai institusi pendidikan yang mengabdi di tanah
Papua. Ini adalah nilai yang dibentuk dari kesadaran spiritual keislaman,
tetapi ini juga kesadaran tentang kebangsaan. Jadi kedepan, dialektika kebangsaan,
keislaman dan kepapuan, tidak lagi menjadi persoalan di Yapis. otomatis bahwa
pengabdian Yapis adalah pengabdian untuk bangsa, tetapi juga pengabdian untuk
memuliakan kemanusiaan dalam rangka meraih Ridho Allah.

Menurut
Bapak, bagaimana Yapis menempatkan diri dalam konteks sosial di Papua?

Bagian itu, saya kira harus kita pertajam. Bagaimana Yapis berkarya dan bisa
diterima sebagai rahmat untuk Papua. Artinya, Ketika dibuka daerah baru,
pimpinan langsung mengusulkan  “kita bentuk/perkuat Yapis” seperti itu.
Dan karena itu, insya Allah, perspektif kegiatan kita kedepan itu nanti kita
kembangkan pada aspek-aspek yang lain. Dan kalau mau, Yapis dapat menjadi “gong
utama” untuk mensinergikan seluruh potensi umat Islam di Tanah Papua dan
menjadi katalisator antara muslim dan kelompok, antitas nusantara lainnya.
Sebagai Muslim, seharusnya bisa mengadaftasi diri dan bisa berdialogis dengan
kondisi apapun. Dan Yapis memiliki peluang itu, karena pilihannya sudah benar,
yaitu pendidikan. Orang perlu pendidikan bukan sekedar untuk menjadi pandai
saja, tetapi juga untuk menghindari penindasan. Maka Yapis dapat menghindarkan
orang dari penindasan. Inilah posisi strategis Yapis. Posisi ini belum kita eksplore
 dengan baik

Sejalan
dengan perkembangan Indonesia dan Papua, apakah perlu perubahan pada jalur
perjuangan Yapis?

Memperkaya saja, tidak perlu dirubah, sampai kapanpun, pendidikan ini
diperlukan. Yang terpenting adalah kita menambah, kita melakukan
penyesuaian-penyesuaian. Contoh didaerah pemerintahan yang baru, kita perlu
membuka ruang untuk pendidikan yang aplikatif, yang dapat langsung diserap oleh
daerah setempat. Kita tetap berdiri diatas pelataran pendidikan, tetapi kita
memperkaya dan memperluas. Yapis harus menampilkan wajah pendidikan yang
nasionalis, islami, ramah, toleran dan harmoni. Itu tantangan kita.

Apa yang
masih harus dilakukan kedepan?

Potensi pertama saya kia kita harus melakukan, perkuat pendataan.berbasis
dari situ, baru kita mulai merancang program yang tepat. Misalnya, di pesisir
pantai, perlukah Yapis untuk mendorong SMK kemaritiman? Kita menguatkan posisi
kita dengan data. Tapi kita juga tidak mengurangi keyakinan untuk bekerjasama
dengan siapapun. Karena itu, ruang untuk itu harus tetap kita buka. Kita punya
komitmen untuk pendidikan, maka kita bertanggungjawab terhadap penguatan
kapasitas di suatu daerah, kapasitas keilmuan. Terkait identitas, mungkin tidak
harus kurikulum. Tetapi bagian, seperti ekstrakurikuler atau apapun itu, yang
penting bisa intoduce identitas atau ciri khas dari Yapis, sehingga kelak
ketika alumni, punya identitas yang sama*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *